Gereja Kristus Raja
-
Jl. Danau Toba No 56
Pejompongan
Jakarta
Telp. (021) 573 4375
Pastoran / Sekretariat
Jl. Danau Buyan F I / 25A
Pejompongan
Jakarta
Telp. (021) 573 3383
Fax. (021) 573 3383
E-mail : info@kristusraja.net
E-mail : info@kristusraja.com
Hari Minggu
PEKAN BIASA VII
19 Februari 2012
Bacaan Pertama
Yes 43: 18-19,21-22,24b-25
Mazmur
41:2-3,4-5,13-14 R: 5b
Bacaan Kedua
2Kor 1: 18-22
Bacaan Injil
Mrk 2: 1-12
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hari Minggu
PEKAN BIASA VIII
26 Februari 2012
Bacaan Pertama
Kaj 9: 8-15
Mazmur
25: 4bc-5ab, 6-7ab, 8-9 R: 10a
Bacaan Kedua
1Ptr 3: 18-22
Bacaan Injil
Mrk 1: 12-15
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Jadwal Misa
20 Februari 2012 - 26 Februari 2012
Senin 20 - 02 - 2012
Misa Pagi Pk 06.00
Selasa 21 - 02 - 2012
Misa Sore Pk 18.00
Rabu 22 - 02 - 2012 RABU ABU
Misa Pagi Pk 06.00
Misa Sore Pk 19.00
Kamis 23 - 02 - 2012
Misa Sore Pk 18.00
Jumat 24 - 02 - 2012
Misa Pagi Pk 06.00
JALAN SALIB I (Andreas S) Pk.18.00
Sabtu 25 - 02 - 2012
Misa Sore Pk. 17.30
di Basement Gereja Kristus Raja, Jalan Danau Toba.
Minggu 26 - 02 - 2012
Misa Pagi Pk. 08.30
di Basement Gereja Kristus Raja, Jalan Danau Toba.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Jadwal Misa
27 Februari 2012 - 4 Maret 2012
Senin 27 - 02 - 2012
Misa Pagi Pk 06.00
Selasa 28 - 02 - 2012
Misa Sore Pk 18.00
Rabu 29 - 02 - 2012
Misa Pagi Pk 06.00
Kamis 01 - 03 - 2012
Misa Sore Pk 18.00
Jumat Pertama 02 - 03 - 2012
Misa Sore Pk 18.00
JALAN SALIB II ( Hendra S )
Sabtu 03 - 03 - 2012
Misa Sore Pk. 17.30
di Basement Gereja Kristus Raja, Jalan Danau Toba.
Minggu 04 - 03 - 2012
Misa Pagi Pk. 08.30
di Basement Gereja Kristus Raja, Jalan Danau Toba.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Pastel Tasty
Obor Media
Ziarah Batin
Inovasi Raya Computer
Kijangtours
Padepokan Bukit kehidupan
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Bacaan Injil
Rabu, 15 Februari 2012
Pekan Biasa VI
St. Kaludius, St.Sigtridus
Bacaan I: Yak 1: 19-27
Mazmur : 15: 2-3ab,3cd-4ab,5 R: 1b
Bacaan Injil : Mrk.8: 23-26
8:23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?"
8:24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon."
8:25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
8:26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!"
Kamis, 16 Februari 2012
Pekan Biasa VI (H)
Onesimus; St. Porforios;
B. Simon dr Cascia
Bacaan I : Yak. 2:1–9
Mazmur : 34:2–3.4–5.6–7; R: 7a
Bacaan Injil : Mrk. 8: 27–33
Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka: ”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka: ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: ”Engkau adalah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia. Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: ”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Renungan
Seorang bapak sempat mengeluh. Ia merasa keberatan harus mengikuti pelajaran agama selama setahun penuh sebelum dapat dibaptis. ”Kenapa tidak bisa langsung dibaptis? Bukankah saya dapat mempelajari sendiri tentang agama Katolik?” ujar bapak tersebut memberi alasan.
Mengenal Kristus dengan baik diperlukan waktu serta ketekunan. Para murid telah bergaul dengan Yesus selama beberapa tahun. Meskipun demikian, mereka masih belum mengenal Yesus secara benar. Hanya Petrus yang sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Juru Selamat. Namun, Petrus juga tampaknya tidak sepenuhnya mengerti Yesus. Saat Yesus menyampaikan bahwa ia harus menderita dan mati, Petrus berusaha untuk mencegahnya.
Barang siapa ingin mengikuti Kristus, janganlah hanya mengakui dengan bibir, melainkan harus mempertaruhkan nyawa untuk membela sesama, bila perlu sampai mati. Yesus telah membuktikan hal ini dengan menderita dan wafat, bahkan wafat di kayu salib. Pengurbanan kita tidak akan sia-sia, tetapi diperhitungkan oleh Allah.
Doa
Tuhan, doronglah aku untuk semakin bersedia mengenal-Mu lebih baik dan mengikuti-Mu dengan sepenuh hatiku. Amin.
Jumat, 17 Februari 2012
Pekan Biasa VI (H)
St. Teodulus; St. Bonfilio dkk.;
St. Silvinus; St. Nisephorus
Bacaan I : Yak. 2:14–24.26
Mazmur : 112:1–2.3–4.5–6; R: 1
Bacaan Injil : Mrk. 8:34–9:1
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barang siapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.” Kata-Nya lagi kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”
Renungan
Jer basuki mawa bea, kata pepatah. Segala sesuatu menuntut pengorbanan. Demikian juga halnya mengikuti Yesus. Bila orang ingin mengikuti Yesus, tidak cukup hanya di dalam hati atau dengan kata-kata saja.
Seorang ibu yang kehilangan suami secara mendadak, harus menghidupi tiga anaknya. Ibu ini tak berpengalaman mencari uang sebelumnya. Hari-harinya penuh dengan kegetiran dan perjuangan. Ia menjalaninya dengan tabah dan dengan tetap percaya kepada kebaikan Yesus. Ibu ini berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Ibu ini merupakan contoh konkret bagaimana menjadi pengikut Kristus yang baik. Ia tetap setia baik pada waktu segalanya berjalan lancar maupun ketika semua pintu seolah-olah tertutup baginya.
Yesus, dalam Injil hari ini mengajak para pengikut-Nya untuk tegar dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan dalam hidup. Dan, apa pun tantangannya dan seberat apa pun salib yang dipikul, Yesus menasihati kita untuk tidak meninggalkan iman kita kepada-Nya.
Doa
Tuhan, Bapa yang mahasetia, kuatkanlah aku selalu dan teguhkanlah imanku, khususnya ketika aku harus melalui jalan yang sakit dan menyesahkan. Amin.
Sabtu, 18 Februari 2012
Pekan Biasa VI (H)
St. Flavianus;
B. Fransiskus Regis Clet
Bacaan I : Yak. 3:1–10
Mazmur : 12:2–3.4–5.7–8; R: lh.8b
Bacaan Injil : Mrk. 9:2–13
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: ”Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: ”Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan ”bangkit dari antara orang mati.” Lalu mereka bertanya kepada-Nya: ”Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus: ”Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan? Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.”
Renungan
Briptu Jamong merasa bahagia. Semua saudara dan sahabat-sahabat dekatnya datang pada acara selamatan yang ia selenggarakan. Baru saja Briptu Jamong mendapat tugas ke daerah yang sulit dan berbahaya. Ia membutuhkan kekuatan serta dukungan orang-orang terdekat sebelum berangkat menunaikan tugas barunya itu. Kebahagiaan yang ia alami pada acara selamatan amat meneguhkan dirinya. Namun, ia akan lebih berbahagia jika berkat kekuatan yang dia peroleh saat ini, Briptu Jamong akhirnya kembali dari medan laga dalam keadaan selamat.
Perjumpaan Yesus dengan Nabi Musa dan Elia, dalam suasana khusus di puncak gunung, amat mengesankan para murid. ”Rabi, betapa bahagianya berada di tempat ini,” ujar Petrus. Namun, Yesus tidak membiarkan para murid-Nya membangun kemah kenyamanan di puncak gunung, tetapi mengajak mereka kembali berjalan bersama-Nya menuju Yerusalem, suatu medan karya yang penuh risiko. Kebahagiaan yang dialami para murid di puncak gunung tersebut menjadi bekal serta kekuatan pada saat mereka harus menjalani kesulitan hidup.
Kedamaian, peneguhan serta kebahagiaan spiritual memang kita butuhkan. Namun, kita sadar bahwa terbentang juga jalan salib yang sulit dalam perjalanan iman kita. Kita harus berjuang melewati jalan salib kita agar kebahagiaan sejati kita dapatkan.
Doa
Tuhan Yesus, perjalanan iman terbentang antara Gunung Tabor dan Bukit Golgota, antara kemuliaan dan penderitaan. Dampingilah aku selalu dalam situasi apa pun. Amin.
Minggu, 19 Februari 2012
Pekan Biasa VII (H)
St. Marselus; St. Konradus dr Lombardia
Bacaan I : Yes. 43:18–19.21–22.24b–25
Mazmur : 41:2–3.4–5.13–14; R: 5b
Bacaan II : 2Kor. 1:18–22
Bacaan Injil : Mrk. 2:1–12
Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, ”Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya, ”Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”—berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu—: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”
Renungan
Pak Antony, seorang suami yang baik dan setia, suatu hari menghadap pastor. Ia mengeluh tentang istrinya yang amat pencemburu. ”Pastor, istri saya itu keterlaluan. Bagaimana saya bisa bertahan? Setiap kali saya pulang kerja, ia meneliti pakaian saya kalau-kalau ada rambut wanita yang menempel di pakaian saya. Dan kalau ia tidak menemukan rambut, masih juga ia menuduh saya menyeleweng dengan wanita gundul!” ujar Pak Antony geram. Pak Antony tentu mengharapkan agar sikap istrinya berubah, dari pencemburu menjadi lebih pengertian. namun, harapan itu akan sia-sia karena sikap cemburu istrinya berakar pada syakwasangka atau sikap curiga yang membuat sang istri selalu tidak percaya pada kesetiaan suaminya.
”Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Inilah yang dilakukan Yesus sebelum Ia dapat menyembuhkan si lumpuh yang datang ke hadapan-Nya. Orang lumpuh itu menjadi sembuh karena terlebih dahulu hatinya didamaikan dahulu dengan Allah; dosanya diampuni Yesus. Bagi Yesus, tindakan mengampuni adalah pintu masuk bagi rahmat Allah mengalir dalam diri kita.
Ajaran kasih yang disampaikan Yesus memang indah, namun tidak mudah dalam praktiknya. Mempraktikkan ajaran Yesus bisa dimulai dalam hidup kita sehari-hari dengan membiarkan ”pipi kiri” kita ditampar istri atau suami berkali-kali.
Doa
Tuhan Yesus, aku rindu beroleh rahmat dari-Mu. Ampunilah dosa-dosaku, agar rahmat-Mu mengalir dalam diriku. Amin.

Senin, 20 Februari 2012
Pekan Biasa VII (H)
St. Nemesius; St. Eleuterius
Bacaan I : Yak. 3:13–18
Mazmur : 19:8.9.10.15; R: 9a
Bacaan Injil : Mrk. 9:14–29
Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ”Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Kata seorang dari orang banyak itu: ”Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Maka kata Yesus kepada mereka: ”Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu kemari!”
Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: ”Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: ”Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus: ”Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: ”Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: ”Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: ”Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.
Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: ”Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka: ”Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”
Renungan
Adanya roh-roh jahat di dalam Kitab Suci acapkali dikategorikan sebagai penyakit belaka. Para ahli tafsir rasional, karenanya, menafsirkan kisah-kisah kerasukan setan sebagai kasus klinis psikologis semata. Sejauh mana hal tersebut benar? Sesungguhnya penyakit badani dapat berdampak pada jiwa dan mental kita. Demikian sebaliknya. Karena itu, tak dapat dikatakan bahwa penyebab penyakit hanya melulu fisik. Setiap penyakit mempunyai akar yang lebih dalam, termasuk berurat akar pada kuasa roh jahat. Maka dari itu, pengusiran roh jahat menjadi penting.
Eksorsisme atau pengusiran setan/roh-roh jahat diakui Gereja. Setiap orang khususnya imam tertahbis mempunyai kuasa pengusiran setan. Tentu saja kuasa ini harus juga dibarengi dengan iman serta doa kepada Allah di Surga dalam Nama Yesus!
Doa
Allahku, lindungilah aku dari gangguan roh-roh jahat dalam hidupku. Amin.
Selasa, 21 Februari 2012
Pekan Biasa VII (H)
St. Petrus Damianus; Sta. Irene
Bacaan I : Yak. 4:1–10
Mazmur : 55:7–8.9–10a.10b–11a.23; R: 23a
Bacaan Injil : Mrk. 9:30–37
Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, ”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, ”Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, ”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, ”Barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”
Renungan
”Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit!” ujar Bung Karno di masa lalu. Pastilah Presiden pertama Indonesia ini mempunyai alasan mengapa ia mengatakan kata-kata tersebut. Bung Karno ingin agar orang Indonesia mempunyai cita-cita tinggi dan mau melakukan hal-hal besar. Untuk meraih cita-cita tinggi dibutuhkan semangat besar, mental baja dan bukan mental tempe.
Mejadi orang besar atau orang nomor satu adalah cita-cita semua orang. Lihatlah PSSI kisruh (saat renungan ini ditulis) karena semua orang berlomba ingin dipilih menjadi pengurus. Terkadang bahkan dengan menghalalkan segala cara.
Keinginan menjadi yang terbesar melanda juga murid-murid Yesus. Mereka bahkan sempat mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus menegur sikap para murid. ”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya,” nasihat Yesus kepada murid-murid-Nya.
Yesus tak pernah melarang orang menjadi pemimpin atau orang besar. Ia hanya menegaskan bahwa hakikat kehidupan dan kebahagiaan tidak terletak pada kekuasaan yang kita miliki melainkan pada kesediaan untuk melayani orang lain.
Doa
Tuhan Yesus, ingatkan aku untuk tidak terperangkap pada keinginan menjadi orang yang hanya dilayani saja. Amin.